Menurut gue bagian yang paling IYE dari puisi itu terletak di bait pertama yang mana berbunyi :
Marko, gadisku... kita hidup di jaman posmo, dimana semuanya dilihat dari kacamata subjektivitas. Dimana antara realita dan delusimu telah menjadi bias. Anggaplah aku ini fiktif, khayalanmu. Sehingga kau dapat melepasku tanpa rasa tertinggal dan kembali hidup di ruang nyata.
Kalo kata Mbah Sigmund Freud dalam teori psikoanalisisnya yang beken itu, ini pasti "id" gue yang bekerja.. yaqalee yaqaleee...
Kak Lala! Puisinya membuatku cekat-cekot di ulu hati lhooo hihihihi
BalasHapusWuidiiiiiih... di"smash" dong makanya, biar ga cekat cekot lagiii hihi
BalasHapus